P#112: Apa Sih Karyawan “Dead Wood” Itu?

deadwood
Hore!
Tahun Baru, Teman-teman.
Anda sudah pernah mendengarnya? Karyawan ‘dead Wood’. Apa sih artinya? Kalau dihalaman rumah Anda ada sebatang pohon yang tumbang. Lalu dibiarkan menjadi lapuk. Kira-kira batang pohon yang sudah lapuk itu masih bisa dimanfaatkan nggak? Biasanya sih nggak. Anda pasti membuangnya, ya kan? Nah, batang pohon yang lapuk seperti itu disebut sebagai ‘dead wood’. Jadi dead wood itu sebutan untuk kayu yang sudah lapuk. Nyaris tidak ada gunanya lagi. Kalau karyawan dead wood artinya apa ya? Tentu Anda sudah bisa mengira-ngira maknanya kan?
Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Anda bisa menemukan sebuah contoh kalimat seperti ini: “The new manager wants to cut out the dead wood and streamline production”. Kalimat itu terdengar indah kan? Tapi, kesan indah itu akan berubah jika kita paham maksudnya. Kita bisa mengartikannya secara bebas seperti ini; “Pimpinan baru hendak mem-PHK karyawan-karyawan yang sudah tidak bisa diandalkan lagi agar bisa meningkatkan efektivitas proses produksi.”
Sudah semakin jelas kan sekarang bahwa sebutan ‘dead wood’ itu merupakan istilah yang diberikan kepada karyawan yang sudah tidak lagi bisa diharapkan produktivitasnya. Sama seperti kayu yang sudah lapuk tadi. Bahasa ceplas ceplosnya ‘sudah tidak berguna lagi’, nah itulah dead wood. Anda mungkin jarang mendengar istilah itu. Tapi boleh jadi, Anda bisa melihat para ‘dead wood’ berkeliaran disekitar gedung perkantoran Anda. Dan hati-hati juga, jangan sampai secara tidak sadar jika kita ini sudah menjadi dead wood juga. Karena seperti kayu yang lapuk tadi, tidak ada orang yang mau piara karyawan dead wood.
Saya bersungguh-sungguh mengatakan hal itu kepada Anda. Mengapa? Karena saya tidak ingin Anda masuk kedalam kategori karyawan dead wood itu. Saya tidak sedang beretorika. Saya sedang berbagi pemahaman dengan pembaca, khususnya yang tidak mempelajari soal karyawan dead wood ini secara khusus. Saya pun mempelajarinya karena kebutuhan pekerjaan, baik ketika masih bekerja sebagai professional maupun sebagai trainer saat ini. Sejauh yang saya pahami, para karyawan dead wood itu pada umumnya adalah orang-orang yang punya potensi tinggi. Samalah seperti batang-batang kayu yang baru ditebang. Kokoh. Kuat. Dan bisa dijadikan tiang pancang.
Kaum dead wood, dulunya adalah orang-orang yang sangat bisa diandalkan. Mereka adalah orang-orang yang mampu memberikan kontribusi tinggi kepada perusahaan. Kinerjanya bagus. Pencapaian-pencapaian profesionalnya sangat mengagumkan. Lantas, bagaimana ceritanya kok orang-orang seperti itu kini menjadi dead wood? Inilah proses yang mesti Anda waspadai.
Ketika sebagai karyawan, Anda berhasil menunjukkan kinerja dan prestasi tinggi, apa yang Anda harapkan? Kita mengharapkan penghargaan dan imbalan yang tinggi juga kan? Wajar dong. Sayangnya, apa yang kita harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Boro-boro bonus gede. Sekedar pujian pun kadang tidak kita dapatkan. Kerja bagus kita diambil semua kredit poinnya oleh orang lain. Mungkin atasan kita. Mungkin seseorang yang lebih pandai ‘bicara’ dengan boss besar. Walhasil, kita yang kerja kerasnya. Dan orang itu yang mendapatkan puja-pujinya. Kejadian itu, membuat kita merasa tidak dihargai.
Kita juga kadang tidak mengharap banyak ya. Cukup pengakuan saja dari atasan. Atau sekedar perhatian yang menunjukkan bahwa dia menghargai kita sebagai manusia. Tapi, ada begitu banyak orang senasib dengan kita yang ngerasa banget kalau atasannya hanya peduli pada angka-angka dan kerja, namun tidak sungguh-sungguh peduli pada kita. Kodisi ini, membuat kita merasa sekedar dieksploitasi. Sehingga kemudian kita bertanya;”Emangnya gue digaji berapa sih sampai kerja kayak gini?”
Ketika hasil kerja kita bagus terus. Semua pekerjaan yang diberikan kepada kita diselesaikan dengan sangat baik. Lebih baik dari orang lain. Bakan kita membantu orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Atau mengajari mereka bagaimana melakukannya. Maklum, kita ini kan karyawan yang bagus. Dilubuk hati kita kemudian muncul secercah harapan. “Sudah layak nih gue untuk naik jabatan…” Ketika ikut proses seleksi pun kita masih percaya diri. Apalagi para pesaing kita rata-rata kemampuan dan kinerjanya masih dibawah kita. Yaaa… setidaknya itulah yang kita pikirkan.
Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata, yang dipilih oleh top management untuk memegang jabatan itu bukan kita. Melainkan seseorang yang kita tahu nggak pantes banget untuk jabatan itu. Kita tahu kualitas orang itu. Kita tahu kelemahannya. Dan kita juga tahu dosa-dosanya. “Kenapa mesti dia yang naik jabatan sih! Gue kan jauh lebih baik dari dia!” Begitu tuch bisikan yang muncul didalam hati. Kita sekarang sadar benar bahwa top management tidak fair. Mereka memilih orang yang pandai menyenangkan atasan, bukan orang yang pandai menyelesaikan pekerjaan.
Bisa Anda bayangkan jika semua kejadian menyakitkan yang saya uraikan itu terjadi berulang-ulang. Efek sakit hatinya kita rasakan setiap hari. Dan semua siksaan itu berlangsung selama belasan bahkan puluhan tahun disepanjang perjalanan karir kita kan? Bayangkan. Maka Anda akan menyadari efeknya. Awalnya, Anda bisa menasihati diri sendiri. “Sabar saja. Mungkin belum waktunya. Coba lagi lain kali.” Begitu kan?
Dan ketika ada kesempatan di ‘lain kali’ itu, kita jalani lagi. Dan kita tersisih lagi. Ada kesempatan lagi, dan kita sadar lagi betapa tidak obyektifnya para pengambil keputusan menilai orang-orang. Kalau sudah begitu, mulai deh bisikan didalam hati. “Nggak ada gunanya kerja bagus-bagus kalau gue nggak dihargai gini…..” Maka sejak saat itu, kualitas kerja kita dikurangi. EGP deh pokoknya. Kerja baik atau buruk sama aja hasilnya.
Bisa membayangkan apa yang terjadi jika perasaan, pikiran, dan sikap seperti itu terus bersemayam didalam hati selama sisa karir kita? Bisa dipastikan deh jika kita akan sampai kepada suatu keadaan dimana kita tidak lagi peduli kepada pekerjaan. Asal masih dapat gaji aja. Hal lainnya, sudah tidak lagi tertarik buat mikirin. Bisa jugakan Anda membayangkan akan seperti apa kinerja kita jika bekerja dengan sikap, pikiran, dan tabiat seperti itu? Kita tidak akan lagi tertarik untuk mempersembahkan kinerja yang tinggi. Inilah. Yang. Terjadi. Pada. Karyawan. Yang. Dulunya. Bagus. Dan. Berubah. Menjadi. Dead. Wood.
Lantas, bagaimana caranya supaya Anda tidak menjadi dead wood? Sederhana caranya; Bekerjalah, untuk mendayagunakan seluruh potensi diri Anda – dengan bayaran berapapan – dengan jabatan apapun – dengan situasi apapun. Dengan begitu, Anda tidak akan gampang kecewa, apalagi sakit hati. Sehingga Anda bisa menjaga konsistensi kualitas pribadi Anda tetap tinggi. Soal uang dan jabatan, tidak perlu terlampau dikhawatirkan. Karena orang-orang yang konsisten dengan kinerja tinggi; dicukupkan rezeki dan penghidupannya. Silakan dibuktikan. In sya Allah, Anda akan merasakannya.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 7 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Karyawan yang ‘dibuang’ dari kantornya biasanya adalah orang yang dulunya pekerja handal. Namun karena berbagai kekecewaan, dia membiarkan kinerjanya memburuk. Sampai akhirnya dia tidak cocok lagi untuk terus dipekerjakan.
Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung dihttp://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Dare to invite Dadang to speak for your company?  
Call him @ 0812 19899 737 or 
Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may also like these